Berita

Meneladani Kepemimpinan Rasulullah SAW

Penulis : Prof. DR. H. Muhibin, M.Ag., 27 Agustus 2010, 09:21:13

Sebagai manifestasi  dari pertanggung-jawaban seorang manusia hamba Allah SWT., nabi Muhammad SAW. pernah memberikan pernyataan yang menggambarkan bahwa seluruh manusia itu hakekatnya adalah sebagai pemimpin. Pemimpin yang akan dimintai pertanggung-jawaban atas kepemimpinannya tersebut, baik dilevel yang paling tinggi maupun pada level yang terendah.  Bahkan seorang pembantupun, dapat dimasukkan ke dalam kategori sebagai pemimpin, tentu terutama terhadap tugas yang diberikan dan menjadi tanggung jawabnya.  Konsep kepemimpinan  ini sesungguhnya memberikan teladan dan ajaran kepada kita semua bahwa setiap manusia itu mempunyai hak dan kewajiban serta tanggung jawab yang seimbang, sehingga tidak boleh ada eksploitasi, pemaksaan, dan pembebanan yang diluar batas kewajaran.

Lantas dalam penegertiannya yang lebih spesifik, pemimpin tentu dipahami sebagai sosok manusia yang mempunyai tanggung jawab terhadap manusia lain untuk mencapai cita-cita  dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam pengertinnya yang seperti ini tentu prilaku, sikap, dan tangung jawab seorang pemimpin harus dibedakan dengan manusia pada umumnya.  Karenanya pemimpin yang seperti ini  diharuskan mempunyai beberapa syarat.  Dan tidak semua orang bisa "menjadi" pemimpin.

Pemimpin dalam arti khusus ini mencakup sekup yang sempit maupun yang sangat luas; dari kepemimpinan ditingkat RT sampai tingkat Negara, termasuk kepemimpinan di dalam dunia kampus, baik dikalangan mahasiswa maupun dikalangan birokrasi.

Jika kita telusuri bagaimana peran dan perilaku yang ideal bagi seorang pemimpin dalam arti khusus tersebut, sesungguhnya dapat dilihat dari pelaksanaan shalat berjamaah.  Seorang pemimpin yang idal dan diharapkan itu dilambangkan dengan seorang imam dalam memimpin jamaah shalat.  Artinya bahwa seorang imam itu harus dari kalangan yang paling pandai/serdas diantara yang lainnya.  Disamping itu seorang imam harus disukai oleh sebagian besar makmun/yang dipimpinnya.  Seorang imam juga harus mengerti dan menyelami kondisi makmumnya. Seorang imam juga tidak boleh terlalu lapar dan atau terlalu kenyang, yang menyebabkan kurang konsentrasi.

Perlambangan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

Bahwa seorang pemimpin itu harus dari kalangan yang pandai/cerdas, memberikan gambaran bahwa seorang pemimpin itu harus pintar dan cerdas, baik dalam hal memecahkan problem yang ada, maupun dalam hal bagaimana  mencari cara ataupun solusi yang baik dan elegan serta tidak bertentangan dengan peraturan yang ada untuk mencapai tujuan, yakni mensejahterakan umat yang dipimpin.

Bahwa seorang pemimpin itu harus disukai oleh sebagian besar umat yang dipimpinnya, mengisayaratkan bahwa sesungguhnya yang paling ideal ialah bahwa seluru umat yang dipimpin itu menyukai kepada pemimpinnya, tetapi itu merupakan sesuatu yang mustakhil, karena itu keidealan tersebut, cukup dengan disukai oleh sebagaian besar umat saja, karena kondisi tersebut akan  memperkokoh legitimasi seorang pemimpin dan sekaligus segala kebijakan serta langkah-langkah strategisnya akan dapat diterima dan didukung oleh sebagain besar umatnya yang menyukai tersebut.  Dengan kondisi demikian akan memungkinkan seorang pemimpin dapat melangkah kedepan dengan tegap dalam rangka mewujudkan cita-cita mulianya, yakni memajukan umat dan organisasi/negaranya, serta disegani oleh semua pihak.

Bahwa seorang pemimpin itu harus mengerti dan menyelami umatnya, memberikan pengertian bahwa seorang pemimpin itu dalam seluruh kebijakannya harus mempertimbangkan kondisi umatnya.  Artinya seorang pemimpin itu harus mengerti benar tentang keadaan umat yang dipimpinnya; kebutuhannya, kesulitan dan problem yang dihadapinya.  Seorang pemimpin adalah pelayan bagi umatnya, bukan sebaiknya, yakni bahwa umat/masyarakatnya harus mengerti segala kebijakan pemimpinnya, meskipun sangat tidak memihak kepada kepentingan masyarakatnya. Pengetahuan mengenai kondisi riil masyarakatnya ini mutlak diperlukan, agar dalam perjalanan kepemimpinannya, seorang  pemimpin akan dapat memberikan perhatian yang lebih khusus bagi kepentingan masyarakat/umatnya.

Bahwa seorang pemimin itu tidak boleh terlalu lapar atau terlalu kenyang, memberikan pengertian bahwa seorang pemimpin itu selayaknya bukan dari kalangan orang yang miskin, karena hal itu akan mengganggu kinerja kepemimpinannya.  Pemimpin yang seperti ini akan lebih memikirkan bagaimana membuat diri dan keluarganya bisa mendapatkan kesempatan dari jabatannya untuk meraih kekayaan.  Seorang pemimpin juga sebaiknya bukan dari kalangan orang yang terbiasa dengan kekayaan yang melimpah, karena boleh jadi kebiasaan menjadi orang kaya tersebut akan menjadikan dirinya enggan untuk mengenali dan memikirkan keadaan masyarakatnya yang tentu sebagaian besarnya terdiri atas masyarakat miskin.

Disamping itu sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. yang  berupa sidiq, amanah, fathonah, dan tabligh, juga patut dan bahkan harus dimiliki oleh seorang pemimpin yang akan menjadi tumpuan harapan masyarakat banyak.  Sifat jujur diperlukan bagi seorang pemimpin agar masyarakatnya tidak putus asa dengan mengharapkan sesuatu dari pemimpinnya yang selalu membohonginya.  Sifat anamah atau dipercaya  juga sangat diperlukan bagi seorang pemimpin agar harapan masyarakat kepadanya tentang program-program kesejahteraannya dapat direalisasikan.  Demikian juga sifat fathonah atau cerdas sangat diperlukan bagi seorang pemimpin.  Bisa dibayangkan apabila seorang pemimpin itu bodoh, bagaimana dengan masa depan masyarakat dan organisasi/bangsa dan negaranya.  Kecerdasan merupakan sifat mutlak yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam rangka menjalankan roda kepemimpinannya, disamping  dapat mengatasi segala problem yang muncul dengan cerdas dan bermanfaat bagi umat dan masyarakatnya.  Sementara itu sifat tabligh atau memberikan informasi yang tepat dan benar serta tidak pernah menyembunyikan sesuatu yang seharusnya disampaikan kepada umatnya.  Sifat ini sangat diperlukan dalam rangka transparansi menuju kepemimpinan yang baik dan bersih.

Sedangkan pola hubungan  antara seorang pemimpin dengan pemimpin lainnya, tentu harus dilakukan dengan saling menghargai, saling menghormati posisi, kewenangan, dan tanggung jawab masing-masing. Pola hubungan ini diperlukan, agar terjadi keserasian dan keselarasan, serta tidak terjadi kesenjangan yang mengarah kepada disharmoni dalam menjalankan kepemimpinan masing-masing.

Jadi seorang pemimpin yang ideal sesungguhnya telah diteladankan oleh nabi Muhammad SAW. dalam segala sifat dan perilakuknya, serta diwujudkan dalam perlambang imam dalam melaksanakan shalat berjamaah.  Ia adalah seorang yang mempunyai sifat-sifat jujur, dapat dipercaya, serdas, dan transparan yang selalu dimanifestasikan dalam seluruh aktifitasnya, dan tentu mempunyai sifat toleran.  Ia selalu menjadikan tugas dan tanggung jawab sebagai hal yang utama melebihi kepentingan pribadi, keluarga dan golongannya. Disamping itu dalam setiap kebijakan dan programnya, ia selalu mempertimbangkan kondisi masyarakat dan lingkungannya, sehingga langkah-langkahnya tersebut akan mendapatkan respon positif serta dukungan untuk mewujudkannya.

Tentu problem dan kritik harus selalu disadari akan terus muncul, tetapi dengan sikap bijaksana dan konsisten dalam setiap langkah dan kebijakan, kepemimpinan tersebut akan menuai keberhasilan.

KOMENTAR
Nama
Website
Email
Komentar
 
Berita Lainnya

Petikan Ayat Al-Qur'an

Al-Baqarah : 183-185

183)Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

(184) (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui

(185) (beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur

Lihat Berdasarkan Kategori

  • Pascasarjana IAIN Walisongo
  • Digilib IAIN Walisongo
  • Katalog Perpustakaan IAIN Walisongo
  • wmc